Thumbnail

Desa Sade

Oleh : Cynthia Aurelia Wijaya 5B

    Desa Sade merupakan desa tertua di Lombok yang masih dilestarikan oleh masyarakat setempat. Desa Sade yang ada di Lombok Tengah ini berdiri / dibangun pada tahun 1079. Kata Sade berasal dari bahasa sasak kuno yang artinya obat. Di Desa Sade terdapat rumah adat NTB (Lombok) yaitu rumah Lumbung. Selain itu ada beberapa jenis rumah selain rumah Lumbung yaitu bale tani, bale kudang, bale bentar, bale alang, dan bale berugaq. Biasanya atap rumah mereka terbuat dari jerami, alang-alang, dan ijuk. Keunikan dari rumah Lumbung adalah lantainya yang terbuat dari campuran kotoran sapi atau kerbau, tetapi sebagian besar masyarakatnya menggunakan kotoran sapi. Mereka biasanya mengepel lantainya menggunakan kotoran sapi untuk melawan penyakit, agar pondasinya tetap kuat, mencegah nyamuk datang dan untuk mencegah adanya keretakan pada lantai. Tetapi uniknya lantai yang dibuat dari campuran kotoran sapid an yang sering dipel menggunakan kotoran sapi tidak menimbulkan aroma / bau yang tidak sedap. Tembok dari rumahnya biasanya terbuat dari anyaman bamboo. Desa Sade ini terdiri dari 150 kepala keluarga, 9 kampung, dan 700 jiwa yang tinggal di sana. Di sana mayoritas masyarakatnya menganut agama Islam.

    Di Desa Sade mayoritas masyarakatnya atau penduduknya berasal dari suku sasak. Di sana (Desa Sade) ada permainan yang diajarkan untuk anak laki-laki dari umur 7-8 tahun. Nama permainan itu adalah permainan peresehan. Permainan peresehan adalah permainan yang khusus dimainkan untuk anak laki-laki. Cara bermain permainan ini adalah dengan saling pukul-memukul. Di sana mayoritas pekerjaan lokal bagi laki-laki adalah petani dan mayoritas pekerjaan lokal bagi perempuan adalah menjadi pengerajin. Biasanya para pengerajin perempuan membuat kerajinan kain songket dank ain tenun ikat dengan cara menenun. Di Desa Sade para pengerajin menggunakan tekhnik menenun tradisional. Harga kain songket cukup mahal bahkan harga kain songket bias mencapai jutaan. Mereka dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari dengan bertani dan menjual aneka hasil kerajinan yang mereka buat. Cara membuat kain songket tidak mudah. Mereka harus memulai membuat kain songket dengan cara memintal kapas terlebih dahulu hingga menjadi benang, setelah menjadi benang mereka baru memulai menenun kain songket. Menenun kain songket tidak mudah. Menenun kain songket membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan, oleh karena itu harga kain songket sangat mahal. Selain kain songket di Desa Sade terdapat beberapa kerajinan lainnya seperti gelang, kain tenun ikat, gantungan kunci, kalung, dan hiasan lainnya. Biasanya di sana mereka membuat gelang menggunakan benang dan membuat gantungan kunci dari kayu. Para perempuan yang tinggal di sana harus bias menenun, karena jika mereka sudah bias menenun maka mereka boleh dan diijinkan untuk menikah. Ada juga adat yang mengatakan bahwa jika ada orang yang mau menikah maka ia harus menikah dengan orang yang ada di desa itu. Berbeda seperti kita mereka tidak menggunakan acara lamaran atau tunangan, tetapi mereka menggunakan tradisi yang disebut tradisi kawin lari atau tradisi kawin culik. Setelah itu pasangan tersebut meminta restu untuk menikah kepada kedua orang tua mereka secara resmi. Setelah kedua pasangan mendapat restu dari kedua orang tua barulah mereka menikah secar resmi atau sah. Karena keunikan bentuk rumah adat dan tradisi yang mereka jalani banyak wisatawan lokal maupun asing yang datang ke Desa Sade di Lombok.