SEMINAR SEHARI MEMBANGUN SINERGITAS PENDIDIKAN ANTARA ORANG TUA DAN GURU

        Dalam rangka memberikan pelayanan terbaik di bidang pendidikan, Sekolah Kristen Aletheia Mataram terus berupaya meningkatkan mutu layanannya. Berbagai upaya telah dilakukan sekolah guna mencapai tujuan tersebut, mulai dari meningkatkan mutu ketenagaan secara internal sampai kepada upaya membangun sinergitas dengan semua stakeholder, terutama orang tua siswa.

         Dalam upaya meningkatkan sinergitas antara pihak sekolah dengan orang tua siswa, di awal tahun ini (10 Januari)  Sekolah Kristen Aletheia Mataram menyelenggarakan seminar sehari yang bertajuk Habit of Obidience and Way of The Will – Raising Respecful Emotionally Healthy Children. Seminar ini bertujuan untuk menyamakan persepsi anatara pendidik (guru) dengan orang tua dalam hal penanganan terhadap anak. (peserta didik)

        Mengingat tantangan di dunia pendidikan ke depan yang semakin besar dan kompleks, terutama menyangkut sikap dan perilaku anak, maka seminar ini dipandang sebagai sesuatu yang dibuthkan dan diras sangat penting. Sampai taraf keadaan yang ada saat ini, boleh dikatakan bahwa ini merupakan kebutuhan yang sifatna mendesak. Guna menjawab tantangan yang ada saat ini, dibutuhkan  suatu pemahaman yng sama antara guru dengan orangtua sehingga tindakan-tindakan kependidikan yang dilakukan, baik oleh orang tua di rumah maupun guru di sekolah dapat menjadi suatu sinergitas yang ampuh.

        Seminar ini dipandu oleh Ellen Kristi, seorang pegiat homeschooling dan sekaligus sebagai pembicara nasional untuk masalah tersebut.  Guru dan orang tua siswa yang mengikuti acara ini terlihat antusias menyimak setiap pembicaraan yang disampaikan Ibu Ellen yang menjadi pembicara tunggal pada seminar tersebut. Pendiri komunitas Charlote Mason Indonesia dan penulis buku best seller “ Cinta yang Berpikir – Sebuah Manual pendidikan Karakter” ini banyak menyampaikan presentasinya yang didasarkan pada teori dan juga dasar-dasar pendidikan berbasis rumah yang disampaikan oleh Charlote Mason. Suasana antusias peserta seinar sudah terlihat sejak awal seminar. Pada awal seminar Ibu Ellen meminta sukarelawan untuk menyampaikan problem yang dihadapi sebagai orangtua yang dialami orang tua pada pagi ini. Dua orang tua (1 dari unsur orang tua siswa dan 1 dari unsur guru) berpartisipasi menceritakan masalaah yang mereka hadapi pagi ini bersama anak masing-masing. Berdasarkan masalah yang mengemuka inilah Ibu Ellen masuk ke pokok materi.

        Ibu Ellen sangat piawai menggiring audience seminar dalam membangun pemahaman mereka  dengan menampilkan contoh-contoh perilaku anak yang sudah menjadi ciri global saat ini. Antusiasme audience semakin terlihat ketika sesi tanya jawab sudah dimulai. Banyak dari peserta mengemukakan permasalahan yang berbeda-beda yang mereka hadai dengan anak masing-maing di rumah. Masing-masing permsalahan yang mengemuka dibahas dengan landasan teori dan pengalaman yang dimiliki oleh Ibu Ellen sebagai pegiat homscholing. Untuk diketahui bahwa sebagai pegiat homeschooling Ibu Hellen tidak hanya melakukan kegiatannya dengan sasaran cutomer (pelangan) tapi ia menerapkannya kepada dua orang anaknya. Keberhasilan dalam menerapkan model pendidikan yang belum dikenal secara luas di Indonesia ini kepada anaknya dan juga para customer mendorng Ibu Ellen untuk terus memperdalam pemahamannya dengan melakukan penelitian dan seminar berkaitan dengan homeschooling.

        Hal yang menonjol dari pelaksanaan seminar ini adalah upaya-upaya yang dapat dilakukan guna menyentuh setiap peserta didik sebagai pribadi dengan pemahaman bahwa setiap anak adalah pribadi yang perlu ditangani secara pribadi. Sebagai pendidik di sekolah tantangannya adalah, bagaimana menerapkan pola-pola dasar penanganan anak sebagai pribadi dalam layanan pendidikan klasikal – suatu yang perlu disikapi dan dijawab oleh guru sebagai keniscayaan mengingat inilah fakta yang dihadapi di dunia pendidikan saat ini.

Seminar Habit of ObidienceSeminar Habit of Obidience