Memimpin Pembelajaran Normal Baru

Oleh Edi Sunarko

Bak bendera yang makin berkibar begitulah saya gambarkan semangat rekan-rekan guru Sekolah Kristen Aletheia Ampenan. Ungkapan ini menyiratkan pesan bahwa semangat mengampu (membimbing) peserta didik kesayangan tidak pernah surut. Kondisi pandemi yang menghinggapi setiap sendi kehidupan kita tak kemudian membuat para guru surut dalam menunaikan tugas mulianya.

Bagi saya sangat tidak mudah mengatasi kecamuk kesan subyektivitas ketika hendak mengurai tulisan ini. Saya menyadari sepenuhnya bahwa barangsiapa menulis tentang “diri sendiri” sangat berpotensi terjebak dalam kepalsuan. Bahkan, tebersit keraguan : patutkah “narasi ini” diteruskan? Namun, setidaknya saya percaya akan jargon kebenaran adalah kebenaran. Kebenaran harus diceritakan. Slogan sekolah eureka aletheia, dengan gamblang hendak menyuarakan kebenaran demi kebenaran yang atas anugerah Tuhan terwujudkan dalam praksis penyelenggaraan pendidikan di sekolah ini.

Menyusul diberlakukannya belajar di rumah (BDR) para guru sibuk melakukan adaptasi yang sepatutnya dikerjakan dengan kesadaran yang sepenuhnya sebagai pendidik di tengah perubahan situasi dan kondisi yang sebelumnya tak pernah dikalkulasi oleh siapa pun. Dengan segera semua elemen pendidik dan tenaga kependidikan berjibaku mengatasi persoalan demi persoalan di tengah pandemi Covid 19, guna menjawab ekspekasi para orangtua siswa. Kesadaran dan rasa tanggung jawab yang secara natur melekat pada diri seorang pendidik sejatinya adalah amunisi yang patut disyukuri. Kesadaran akan tanggung jawab yang sedemikan itu, membutuhkan aksi sebagai bukti.

Berbarengan dengan itu, saya adalah salah satu saksi sekaligus pelaku aksi. Saya dapat merasakan gelora sekaligus rasa bangga bagaimana setiap pendidik dan tenaga kependidikan “bergotong royong” saling melengkapi (kalau tidak mau dikatakan saling mengajari) rekan sekerja dalam keseharian bekerja di sekolah. Guru yang memiliki talenta lebih di bidang IT tak segan mengulurkan tangan bagi rekannya yang mengalami kesulitan mengoperasikan perangkat lunak serba canggih di era komputasi setakat ini. Alhasil, secara objektif dapat dikatakan bahwa kini tidak seorang pun guru Aletheia Ampenan yang tidak terampil memimpin (menyelenggarakan) pembelajaran bermoda dalam jaringan (daring) yang mensyaratkannya wajib menguasai perangkat komunikasi canggih agar bisa memberi sentuhan pengajaran dan pendidikan bagi para peserta didik alih-alih pembelajaran tatap muka dalam situasi normal.

Menyaksikan setiap pendidik dengan disiplin “berlomba” memberikan yang terbaik bagi para siswa melalui misalnya, video pembelajaran, modul berbasis e-book, aktivasi kehadiran berbasis web, zoom meetings, google forms, quizzes, prezi, kahoot, dan berbagai sarana media sosial lainnya, saya sekali lagi bangga sekaligus bersyukur menjadi bagian dari entitas para “pengajar pebelajar” itu.

Tidak sedikit temuan guru yang menguak fakta bahwa dinamika para siswa dalam BDR begitu variatif namun juga menggembirakan. Banyak hal positif yang dapat dicapai. Meskipun masih ditemui siswa yang cenderung abai dalam mengikuti proses pembelajaran, tetapi secara signifikan data menunjukkan bahwa siswa-siswa Aletheia sangat antusias mengikuti seluruh agenda pembelajaran yang diselenggarakan secara efektif dalam “lima hari sekolah daring”. Bahkan, mungkin layak dikategorikan bahwa ritme dan frekuensi pembelajaran daring yang terselenggara di Sekolah Aletheia Ampenan adalah yang paling sibuk di antara sekolah- sekolah yang ada di kota kita. Tentu ini bisa dibantah mentah-mentah dengan data akurat yang dengan sendirinya akan menelanjangi “narasi ini”. Namun, setidaknya saya juga memantau seperti apa dan bagaimana proses pembelajaran moda daring, khususnya selama enam bulan terakhir ini di luar sana!

Wusana kata, izinkan kami untuk terus mengejawantahkan tanggung jawab senyampang masih dipercayakan kepada kami oleh para pamangku kepentingan, utamanya para orangtua siswa. Kita hampir tak mungkin untuk tidak bersinergi. Apalagi dalam situasi sulit yang masih akan kita hadapi ini. Sekolah sepenuhnya membutuhkan sokongan para orangtua siswa. Sebagai insan pendidik dengan rendah hati kami ingin terus memberi, walaupun sangat terbatas apa yang kami bisa lakukan. Demi keberhasilan putra putri tercinta para penerus kehidupan ini kita patut saling mengisi. Eureka Aletheia!